Agen Casino Online Agen Judi Poker Agen Casino Sbobet Agen Poker Online Agen Bola Terpercaya Agen Poker Terpercaya Agen Poker Terbaik

Pada 1980, Cruyff Dua Kali Bertanding di Jakarta

Pada 1980, Cruyff Dua Kali Bertanding di Jakarta

Pada 1980, Cruyff Dua Kali Bertanding di Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com – Legenda sepak bola dunia yang baru saja berpulang pada Kamis (24/3/2016) lalu, Johan Cruyff, sempat menyambangi Jakarta pada 1980. Bersama Washington Diplomats, Cruyff dkk menjalani dua pertandingan.

Berdasar arsip Harian KOMPAS, skuad Washington Diplomats tiba di Jakarta pada Senin (17/11/1980). Saat itu, Cruff dkk tengah menjalani tur ke wilayah Asia dengan menyambangi Hongkong, Jepang, dan Indonesia.

Diplomats dijadwalkan melakoni dua laga uji coba. Rabu (19/11/1980), klub asal Amerika Serikat itu akan ditantang PSSI Utama. Dua hari berselang, giliran tim gabung klub-klub profesional, Galatama Selection, yang dihadapi Cruyff dkk.

Selasa (18/11/1980), Diplomats dijadwalkan melakukan uji coba lapangan sekaligus latihan di Stadion Utama Senayan – sekarang Gelora Bung Karno. Namun, lantaran cuaca tak mendukung, latihan dibatalkan.

Bukan hanya lapangan yang terserang genangan cukup tinggi hingga ke seluruh sudutnya. Namun, seluruh tempat duduk di tribune bawah juga basah. Mereka pun langsung bertanding pada keesokan harinya.

Di hadapan sekitar 80.000 penonton yang memadati Stadion Utama Senayan, Diplomats menang 2-0 atas PSSI Utama berkat gol Mario Luna dan Thomas Ronjin.

“Pemain-pemain Anda bagus. Teknik mereka rata-rata lumayan. Tetapi, mereka tidak memanfaatkan sebaik-baiknya dalam pertandingan,” ucap Cruyff seperti dilansir dari Harian KOMPAS, Kamis (20/11/1980).

“Dalam membangun serangan, mereka baru tampak berhasil sampai dua pertiga lapangan,” kata pemain yang baru bergabung dari Los Angeles Aztecs pada 1980 itu.

Pelatih PSSI Utama, Harry Tjong, juga membeberkan alasan kekalahan timnya. “Pemain tidak jalankan instruksi,” ujar dia.

Jumat (21/11/1980), giliran Galatama Selection yang dihadapi oleh Diplomats. Pelatih Diplomats, Gordon Bradley, berharap mendapatkan perlawanan lebih ketat dibandingkan pada laga versus PSSI Utama.

Akan tetapi, Iswadi Idris dkk gagal mempersembahkan kemenangan bagi 40.000 penonton di Stadion Utama Senayan. Galatama Selection kalah 0-3 dan salah satu gol tim tamu dicetak melalui penalti sang kapten.

“Diplomats bermain lebih baik daripada kemarin (lawan PSSI Utama),” ujar Sinyo Aliandoe, pelatih Galatama Selection.

Magnet Cruyff yang saat itu sudah berusia 33 tahun tampaknya masih besar bagi publik Indonesia. Jumlah 120.000 penonton di Stadion Utama Senayan dalam dua pertandingan Washington Diplomats itu membuktikannya.

Diplomats merupakan klub keempat Cruyff sepanjang kariernya. Dia memulai kariernya bersama tim Akademi Ajax Amsterdam pada 1957.

Menembus tim utama pada 1964, Cruyff lantas mengantarkan Ajax ke periode emas dengan merebut tiga kali beruntun Piala Champions. Dia juga didaulat sebagai pemain terbaik di dunia.

Pada 1973, Cruyff bergabung dengan Barcelona. Setelah lima tahun di Spanyol, dia menjajal kemampuan di Liga Amerika Serikat dengan memperkuat LA Aztecs (1979) dan Diplomats (1980-1981)